#1
Diinformasikan kepada mahasiswa KKN PPL Terpadu dan KKN Reguler UNM kecamatan Buntu batu, Malua dan Anggeraja untuk datang di kampus Gunung sari sebelum pukul 8 pagi.
seperti itulah bunyi informasi pemberangkatan mahasiswa KKN UNM untuk tiga kecamatan. Pukul 7 pagi saya dan tiga teman saya, Riri, Ani dan Anna berangkat menuju kampus UNM Gunug sari. Tampak sudah sangat ramai oleh mahasiswa KKN. Ada yang diantar oleh keluarga, teman, bahkan ada yang datang sendiri. Saya termasuk golongan kedua, hanya ditemani teman karena keluarga tidak bisa mengantar saat itu. Tiga bulan. Waktu yang cukup lama bagi kami untuk meninggalkan segala kehidupan normal. Mulai saat itu hingga tiga bulan kedepan, kehidupan kita akan berubah.
Bis berangkat tepat waktu, beberapa teman kelas yang belum berangkat pada hari itu turut mengantar kepergian kami. Ada yang menangis, iya, karena mereka akan rindu. Jarak tempuh Makassar ke kecamatan Buntu batu kira-kira 272,5 Km memakan waktu 6 jam 26 menit (Hasil pencarian di google) ini adalah waktu tempuh normal. tapi bagaimana dengan kami saat ini ? Menggunakan bis uzur, over muatan, saya menebak kita akan tiba menjelang magrib atau ba'da Magrib.
Bisa dibayangkan keadaan bis ini sangat mengkhawatirkan, barang tertumpuk sana-sini hingga tidak ada ruang kosong, sesak, panas, kursinya keras. Ahh... bakal jadi perjalanan yang melelahkan, pikirku. Bis berangkat, tapi ternyata masih ada teman seposko yang rumahnya di Takalar dan dia terlambat. Bis tidak bisa menunggu lama dan tertinggal dari rombongan. Akhirnya, teman tersebut direkomendasikan untuk ketemu di penjual roti maros. Setiba di toko roti maros teman tersebut ternyata boncengan dengan salah satu teman posko juga, dan ada beberapa teman KKN yang berangkat menggunakan motor pribadi dengan alasan agar disana nantinya sudah tidak susah kemana-mana.
Sekitar pukul 10 pagi, dari Maros kemudian menuju Pangkep. Semua bis berhenti, waktunya supir-supir makan Gratis. Biasanya warung-warung makan meng-gratis-kan supir asalkan membawa banyak pelanggan. Kami sudah mulai kelaparan, saya, Wati dan Riri juga ikut makan diwarung tersebut. Sebenarnya saya malas makan diwarung itu karena pengalaman, disana makanannya mahal-mahal -_-. tapi apa boleh buat, tidak ada bekal dan kemungkinan bis tidak akan singgah di warung lainnya hingga kita tiba di tempat tujuan. Kami bertiga duduk di sebuah meja yang terlebih dahulu ditempati oleh seorang laki-laki yang tengah makan ayam goreng. Lelaki itu juga mahasiswa KKN PPL kecamatan Buntu batu. Namanya Fajar, mahasiswa jurusan Bahasa inggris.
Teman-teman sedang asik menyantap makanan, dan terlihat pula dosen pembimbing KKN kami, Pak Dr.Latang, M.pd. yang juga sedang khitmad makan. Fajar duluan menghabiskan makanannya dan pamit keluar, kami bertiga masih asyik mengisi lambung. Usai makan, kami tidak langsung ke bis, melainkan mencari teman sekelas kami (Biologi ICP) hanya untuk menanyakan bagaimana keadaanya sejauh ini. Bis tak berlama-lama, sesegera mungkin meninggalkan warung makan. sekitar pukul 2 siang kita berada di kota Pare-pare. Hampir sampai di perbatasan Pare-pare -Sidrap, supir bis singgah di sebuah Masjid untuk menunaikan rukun iman kedua. Muka cu'malak, badan bau keringat, mata sembab karena tidur terus, ahhhhh... pokoknya sudah tidak pewe.
Usai shalat, bis melaju kembali. sebelum masuk kabupaten Enrekang, kita melewati kabupaten Sidrap terlebih dahulu. Saya tidak begitu memperhatikan jalan karena mata saya kembali berat. Sudah menjadi kebiasaan saya bepergian jauh pasti lebih banyak tertidur daripada memperhatikan pemandangan sekitar. sekitar satu jam lebih, Udara berganti dari hangat menjadi sejuk. Saya terbangun dan memdapati diri sudah di Enrekang. Welcomeee.... !!
jalan berkelok-kelon, naik turut menyambut kami tak kalah hujan deras pun mengguyur Enrekang tak lama ketika kita berada di Kecamatan Maroangin. Kita sudah tidak sabar untuk sampai di lokasi pengabdian, teman-teman nampaknya celingak-celinguk menikmati pemandangan diluar. Di Maiwa, sebelum kota Enrekang, nampak banyak kebun rambutan di pinggir jalan. Berbuah, merah nampak indah dan serasa ingin petik. Hujan belum berhenti sekitar pukul 3 sore. jalanan tak hentinya berkelok-kelok. Untung saja lambungku bisa diajak kompromi, biasanya saya sudah mabuk kalau keadaan jalannya seperti ini.
Jarak dari gerbang masuk kabupaten Enrekang ke kota Enrekang ternyata jauh juga hampir 1 jam waktu tempuh. Kami semakin tidak sabar. Bis tetap melaju, hujan sudah tidak deras lagi digantikan dengan gerimis dan udara semakin sejuk. Pemandangan yang sangat indah, gunung dimana-mana di selimuti kabut. Ahhhh.... inilah pesona Enrekang. Setelah tiga tahun yang lalu baru kali ini saya kembali menginjakkan kaki di kabupaten yang terkenal Dangkenya ini.
Bis tetap melaju, jauh meninggalkan kota Enrekang. Kita sudah dimana yah? kita belum melewati Buntu Kabobong (Gunung Nona) saya mencoba cek lokasi, sekarang kita ada di kecamatan Anggeraja. Anggeraja ke Buntu batu ternyata masih lumayan jauh. Tapi pemandangan yang sangat menakjubkan diluar sana menjadi pelipur hati kita dikala bete karena belum sampai juga sementara pantat sudah berkali-kali mengalami kram.
Bis berhenti disebuah pasar, ternyata beberapa bis yang bertujuan di kecamatan Anggeraja telah memuntahkan muatannya, sementara bis menuju ke kecamatan Buntu batu dan Malua keep moving. sekitaran 10 menit bis kami juga ikut berhenti tepat di depan sebuah jalan samping pasar Cakke'. Terlihat Papan jalan bertuliskan jarak-jarak beberapa kecamatan setelah kecamatan Anggeraja. Baraka 10 Km, Buntu batu 27 Km, Bungin 40 Km. What ? masih ada 27 Km ? *ngelus dada*
Perjalanan kami berlanjut masih 27 Km lagi, hari sudah sore. Nampak kebun bawang dimana-mana, dan banyak bukit. 10 Km, kami tiba di kecamatan Baraka. kira-kira pukul 5 sore. Kecamatan ini lumayan ramai, ada pasar besar. Toko-toko lengkap dimana-mana. Kami mengira, kecamatan Buntu batu keadaannya tak jauh beda dengan disini. Bis kembali mengaspal. Belok sedikit melewati jembatan dan kami tiba di kecamatan Buntu batu. Sorak Sorai bergembira.... semuanya nampak bahagia akhirnya kita tidak tersesat haha... tapi ehh tunggu dulu. kok tidak ada rumah ?, sebelah kanan gunung, sebelah kiri jurang dan sungai. Kasak-kusuk di bis, beberapa mulai khawatir dan ada yang sempat bercanda memecah suasana tegang, tak lama desa pertama yang di jumpai yaitu desa Lunjen rumah sudah nampak dan banyak tapi sinyal internetan tidak ada. Cek per cek, cuma sinyal Telkomsel dan indosat yang tersedia disini. Tak berlakulah kartu Xl ku ini. Setelah melewati desa Lunjen, jalanan kembali sunyi. Mau dibawa kemana kita ? kok bisnya belum berhenti padahal kita sudah ada di kecamatan Buntu batu.
Pukul 5 sore bis akhirnya berbelok, rumah dimana-mana. Bis berhenti di sebuah lapangan depan sebuah masjib. Awan mulai menghitam, udara semakin sejuk, semburat kuning berubah menjadi jingga, matahari akan berganti bulan, gunung-gunung dimana-mana. Masyarakat berkumpul menyaksikan sekitar 4 bis yang berhenti di lapangan. Saya membaca papan depan kantor kepala desa yang tepat di depan lapangan, desa Pasui. Oh jadi ini desa Pasui, gumamku dalam hati. Layaknya barang, satu persatu kita turun dari bis, kesan pertama adalah, indah.
Desa ini indah dan sejuk. Dan tidak seramai di kecamatan Baraka. Kami dipanggil untuk berkumpul di kantor kecamatan Buntu batu. Oh god.... kita harus berjalan agak jauh dan nanjak ? hari semakin sore dan kita sangat lelah. Kita disambut oleh Bapak Camat Buntu batu, Hamsir Lodang, S.Pd., M.Pd., beberapa kepala desa yanga ada di buntu batu serta pegawai pemerintahan. Ucapan selamat datang, dan perkenalan, acara berjalan semi kondusif pasalnya kita sudah tidak bisa fokus 100% akibat keterlelahan dan keterlaparan. hahahha.... Adzan magrib mengakhiri acara penyambutan kami, saatnya untuk kembali ke lapangan dan menyelamatkan barang bawaan masing-masing.
Kecamatan Buntu batu adalah kecamatan hasil pemekaran dari kecamatan Baraka, tidak heran kalau rata-rata SMP disini masih menyandang nama Baraka seperti SMPN 2 Baraka, SMP SATAP 5 Baraka, SMP SATAP 6 Baraka, dan SMP Satap 8 Baraka. Ada 8 desa di kecamatan ini yakni, desa Pasui, Lunjen, Buntu mondong, Ledan, Langda, Potokullin, Latimojong, dan Eran batu. Di pasui sendiri di huni oleh 3 posko KKN PPL dan 1 posko KKN Reguler, Lunjen, Ledan dan Langda dihuni 1 posko KKN Reguler, Potokullin 2 posko KKN Reguler dan 2 Posko KKN PPL, begitu pula dengan desa Ledan dan Latimojong.
Malam itu kami resmi di leburkan di tempat masing-masing, mereka yang poskonya bukan di desa Pasui harus angkat kaki meninggalkan desa ini menggunakan mobil truck kecil pengangkut barang dagangan atau hasil bumi masyarakat. Sementara kami yang di Pasui sedang sibuk mencari rumah masyarakat yang akan kami tempati selama disini. Malam itu kami menginap di rumah kepala sekolah dan satu rumah warga. Oia... saya masuk daftar 17 Mahasiswa KKN PPL Terpadu SMAN 1 Pasui. SMAN 1 Pasui merupakan satu-satunya SMA di kecamatan ini. Kami berasal dari 4 jurusan berbeda-beda yakni Biologi, Kimia, B.inggris dan PTIK. Malam itu walaupun kami belum saling mengenal tapi suasana begitu hangat. Semalaman barang kami tergeletak di luar rumah warga dan itu aman, tidak ada pencuri di desa ini. Ahhh... tentram. Hari yang melelahkan, dan cerita kita baru akan di mulai.
-Berlanjut-






0 komentar:
Posting Komentar