Ahhhh...
Dua bulan berlalu, saya masih enggan melanjutkan kisah inspiratif saya menaklukkan puncak tertinggi di Sulawesi. Ada apa dengan saya ?
Ngak kok, saya ngak sakit, saya ngak melarikan diri, saya ngak dicuri alien, saya cuma ... mmm... sibuk memperkaya diri dan menghadapi dunia perskripsian. HAHAHA
Karena sesungguhnya tekanan terberat saya saat ini adalah, menghalau segala macam bentuk pertanyaan tentang,
1. sudah semester berapa ?
2. sudah selesai kuliah ?
3. kapan wisuda ?
4. kapan sarjana ?
5. kapan-kapan aku ke rumah kamu yah ?#ehh salah bukan ini!
Sungguh niat untuk meneruskan cerita ini sangat besar, sebesar benua Amerika. Namun sayang setiap kali akan bercerita selalu saja yang nampil di desktop adalah skripsi atau ngak list drama korea. Malangnyaaa....
![]() |
| sumber :google |
Pagi ini saya lagi duduk-duduk malas di depan tivi, saya sedang menonton program Talkshow menampilkan seorang presenter dengan dua narasumbernya yakni mahasiswa MAPALA O9 Teknik UNHAS. Mereka sedang membincangkan rekor kedua mahasiswa ini menaklukkan puncak Aconcagua, Argentina yang tingginya 6.962 masl.
![]() |
| sumber : Jalan Pendaki |
Saya coba cari tulisan perjalanan inspiratif dan tak sengaja sebuah situs pajokka www.jalanpendaki.com milik mas Acen ini menarik perhatian saya. Tulisan mas Acen yang pertama kali saya baca adalah tentang perjalanannya mendaki Puncak Gunung Latimojong setahun lalu.
Saya cengengesan sendiri bacanya, tulisannya sangat asik dan menghibur.
Setelah membaca habis postingan mas Acen akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kisah inspiratif saya.
PART 2 Hingga ke Puncak Latimojong.
| Bung Rasul minta di foto |
Pos 1 yang vegetasinya 90% adalah tanaman kopi ini kalau mataharinya lagi senang yah kepanasan, hingga tidak lama kami berjalan sebentar untuk mencari lokasi yang cocok untuk beristirahat sambil mengisi tenaga. Pos 1 ini seperti pintu masuk ke mulut hutan. sekitar pukul 11 siang kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2.
Di tengah perjalanan pos 2 ini adalah hutan yang dihuni oleh pepohonan besar, lembab, tapi ada juga trek sungainya, disini para pendaki harus siap siaga dan hati-hati, trek sungai pertama melewati jembatan kecil yang terbuat dari batang pohon, kedua pendaki harus melewati tebing kecil tapi licin dengan bantuan tali seadanya. Tracking ini terlihat mudah tapi menakutkan, kalau jatuh yah akan terbawa arus sungai yang deras.
| kondisi pendaki dan pos 2, sungguh wajah kami kenapa ? |
Sampai di pos 2 matahari sudah berada diatas ubun-ubun, panas ? Ngaklah,di pos 2 ini sejuk pisan, ada air terjunya plus gua untuk camp. Kami sampai di pos 2 di sambut oleh rombongan pendaki lainnya yang rata-rata semuanya cowok. Mereka siap-siap melanjutkan perjalanan ke pos 3.
Kami membersihkan diri di pinggir sungai, sambil mengisi botol-botol air. Ini nih kenikmatan mendaki, minumnya air yang langsung dari pegunungan, sejuk, dan bersuhu lumayan ekstrim, ketika air diminum dan melewati tenggorokan MasyaAllah dingin benneer...
Icca kemudian membuat api unggun, sementara yang lain sedang mempersiapkan makan siang. Oia selama digunung jika tidak membawa kompas sangat sulit menentukan arah, jadinya shalat dilakukan tanpa tahu arah kiblat dimana.
Setelah perut terisi, stamina balik lagi, cuaca ngak ekstrim, kami melanjutkan perjalanan ke pos 3.
Saya teringat dengan kata-kata kak Raiz dan Fuad "Dwi salam sama pos 2-3 nah" saya yang baru pertama kali ke gunung latimojong ngak tau makna dibalik pesan tersebut.
Naudzubillah, kami benar-benar bungkam melihat track ke pos 3. Beneran harus lewati sini ? ngak ada jalur lain gitu ? unfortunately, ini jalur satu2nya. Semua pendaki lewat sini. Bisa pulang ngak ? yang takut ketinggian jangan coba-coba kegunung latimojong, pas ketemu jalan ke pos 3 langsung minta pulang aja.
| Pos 3 cihuyyyyy |
Kemiringan jalurnya mirip dengan kemiringan gedung mirip di jalan pettarani, tanahnya licin, yang jadi tumpuan kami hanya akar-akar tumbuhan, seketika sel-sel dalam tubuh kami bekerja keras menghasilkan tenaga. Sekitar 30 menit kami meninggalkan pos 2, dan sampai di pos 3. SubhanaAllah, yang tadi itu apa ? Pertanyaannya adalah pulang nanti gimana nih ? harus lewat sini lagi ?
Menuju ke pos 4, pendakian tidak terlalu ekstim, hutannya lebat, jalanan sempit, jalan juga jauh banget, sekitaran 1,5 jam baru nyampe di pos 4. Mage mulai kecapean, selalu tertinggal di belakang, kalau udah jauh dan kecapean kami ngak maksa untuk jalan terus mendingan instirahat lalu jalan lagi.
Pos 4, berarti masih ada 3 pos lagi sebelum ke puncak. Setiap pos ada papan penandanya juga ada deskripsi fauna yang hidup di sepanjang pos juga jarak ke pos selanjutnya. Nampaknya cuaca lagi mendung, suasana mencekam, mana hutannya lebat banget banyak belok-beloknya. Perjalanan ke pos 5 diiringi oleh musik gerimis.
| Bangun pagi, segera berangkat. |
| muncak yukk !! |
Sampai di pos 5 udah gelap banget, hujan pula, selain kami pendaki yang kami temui siang tadi di pos 2 ternyata camping disini. Tapi di pos 5 ini sebenarnya ngak layak buat camping karena kondisinya sangat lembab, kondisi tanah juga rata. Tapi tidak ada pilihan lain, sebagian dari kami takut lanjutin perjalanan gelap-gelap begini. Malam ini camping disini aja dulu, besok baru lanjutin perjalanan. Okesip... Semalaman tidur susah, udaranya dingin beud padahal sudah pakai sleeping bag, kaos kaki, tetap saja udaranya nusuk-nusuk kulit, di tambah air yang merembes masuk ke tenda.
Pukul 8 pagi, kami sudah ready melanjutkan perjalanan menuju puncak Latimojong. Perjalanan ke pos 6 lumayan jauh juga sekitar sejaman, diperjalanan kami lupa mengisi jergen dan botol air kami, perjalanan sejenak terhenti menunggu Ilham dan Rasul yang kembali ke pos 5 menuju sungai disana. Jalur di pos 5 ke pos 6 lumayan luar biasa melelahkan, ngak ada tempat datar. Makin ke atas makin ekstrim, mudah lelah dan napas tersengal-sengal, tenggorokan cepat perih karena udara sangat dingin setiap kali bernapas udara yang masuk ke hidung menusuk-nusuk tenggorokan.
| menjemur dulu mumpung anget haha |
Pos 6 yeaahh... satu pos lagi kan ? Ngelus-ngelus dada, tadi saya, Icca, Mage dan Tiwi duluan ke pos 6 sambil nunggu Rasul sama Ilham datang kami menjemur pakaian yang lembab mumpung matahari lagi senang-senangnya. Gresek ... gresek... ada suara kaki berlarian, kami kira itu Rasul dan Ilham ternyata sekelompok pendaki lain yang udah menyelesaikan misi dan sudah mau balik ke desa. Kami baru sadar kalau kami adalah pendaki terakhir hari ini, semua pendaki udah sampai di puncak dan hari ini akan balik termasuk pemuda yang kami temui kemarin mereka muncaknya jam 4 subuh terus ninggalin tenda mereka di pos 5. Beberapa pendaki yang kami temui ternyata ada dari mahasiswa UNM kebetulan kami kenal, tanpa malu kami minta beberapa persediaan makanan mereka (Ya Allah malu banget, dasar pendaki kere!) Hahahaha...
| Hutan berlumut |
Kami diperingatkan perjalanan ke pos 7 banyak macam tracknya, pertama hutan lumut kedua tebing-tebing. Oke don't worry, we are ready since decided to come here ! Honesty, saya suka sekali dengan hutan lumut ini, cantik pokoknya deh. Perjalan ke pos 7 lumayan lama, kabutnya makin banyak, pemandangan ketutup semua, masih tersengal-sengal, tenggorokan perih. Dekat pos 7 memang bebatuan semua ditambah pohon yang asing bagi kami, alias baru pertama kali lihat pohon jenis ini dan ramai-ramai tumbuh di sepanjang pos 7 sampai ke pos 8.
| Mencoba menerawang kabut di pos 7 |
| tuh kan miring HAHAHA |
| gimana mau mendidih, apinya aja kalah sama api kompor :'( |
| Jangan salah fokus! |
Di pos 7 masih ada bekas camping semalam, kondisi di pos 7 memang terbilang agak kotor, banyak sampah berserakan, plastik makanan, kaleng-kaleng, beras yang masih utuh dalam kantongan, peralatan masak yang sudah rusak,sendok, piring-piring,gelas, banyak sekali pokoknya.
Udara lebih dingin dibandingkan di pos 5, serasa bibir kami pecah-pecah saking dinginnya. Saat itu siang tapi matahari ketutup sama kabut yang tebal. Ngeri juga dan merasa kesepian hanya kami berlima yang camp malam ini. Pos 7 ini ada telaga bisa buat mandi,mencuci, airnya bisa diminum juga. Tenda sudah berdiri sempurna tapi kami salah pilih lokasi camp ternyata, struktur tanahnya miring dikit ngak enak buat tiduran. Malamnya ngak ada yang keluar tenda, hanya berdiam diri di tenda dan cepat memejamkan mata karena kesepakatan jam 4 subuh harus bangun kemudian tembus puncak.
| Capek ah |
Jam 4 subuh kami bergegas, pas keluar tenda, MasyaALLAH bintang-bintang berserakan dilangit, banyak, kerlap-kerlip, tidak seperti bintang yang kulihat selama ini.
Kenapa mesti jalan jam 4 subuh ? kata pendaki lain kalau mau lihat sunrise sekaligus pemandangan yang memukau kita harus tiba di puncak sebelum jam 7 !
Ya Allah, gelap, tanda-tanda jalurnya juga terkadang banyak mengecoh, udara dingin. Beberapa kali kami terkecoh dengan puncak-puncak gunung, karena kondisinya beda dengan pos lain, disini pepohonan tidak terlalu tinggi, malahan hamparannya luas, bebatuan, perasaan kami seperti jalan tanpa tahu puncak gunung latimojong itu yang mana. Matahari mulai muncul, semakin terang, handlamp dimatikan,kami tetap berjalan sudah hampir jam 6 tranggulasi masih tetap belum terlihat. Ini bukan jalurnya yang salah kan ? kita tidak tersesat kan ? Udah stay positive aja deh... Setiap ada puncak rasanya senang tapi pas sampai disana eh jauh disana masih ada puncak lagi yang lebih tinggi, kapan nyampenya ?
| we are PASUI team haha |
| hello world ! |
| wanita-wanita idaman ? ekheem |
| pemandangan puncak |
| oleh-olehnya cuma ini doang yah |
Udah jalan aja ! Akhirnya kejauhan terlihat tranggulasi, lari aja saking senangnya.
Huahh... benar kata orang-orang pemandangan di jam segini tuh indah sekali, kelihatan kabupaten Enrekang, Toraja, Palopo, Pare-pare dari atas sini. Syukur deh ngak salah puncak. Puncak sepi banget, hanya ada kami berenam, puas dong foto disana-sini. Karena target kita harus bisa sampai di dusun karangan sore nanti jadinya ketika kabut sudah mulai menyelimuti puncak kami bergegas kembali ke camp.
| jembatan baru di pos 2 |
| relaksasi kaki nyambil bersih-bersih |
Sekitar pukul 11 siang kami mulai meninggalkan pos 7. Muncak sama turunnya beda banget,udah lari-lari aja sampai betis pegal-pegal dan gemetaran. Turunnya juga hujan deras banget, sampai membuat tanah licin, pacet bebas sana sini lompat-lompat hinggap di kaki Ilham. Pukul 2 siang kami sudah ada di pos 3, cepatkan ? memang benar muncak tuh lebih lama daripada baliknya. Tapi taruhannya kaki gemetaran. Ketemu sama jalur pos 3 ke pos 2 itu udah bungkam lagi, jalanan makin licin karena habis hujan, semua berhati-hati, kami beberapa kali hampir terpeleset. Nah kalau terpeleset udah deh ngak tahu berhentinya dimana, seram. Hari itu banyak pendaki yang baru naik bersamaan dengan pemuda dusun Karangan yang katanya lagi bersih-bersih jalur. Bukan cuma sampah di sepanjang jalur yang dipunguti, penanda jalanan juga diambili, bahaya nih bagi pendaki yang awam.
Setelah hampir meregang nyawa antara hidup dan mati di jalur pos 3 , tiba di pos 2 rasanya legah. Bersyukur banget , udah itu aja! pengen cepat sampai dan pulang ke posko tercinta. Pemuda-pemuda karangan ternyata tidak hanya membersihkan jalur tapi juga mengubah jalur pos 2 ke pos 1,juga membuat jempatan di sungai pos 2. Jalur masih perawan, belum ada yang nginjak, ngeri. Ini perasaan saya saja atau semua merasakan aklau jalur baru ini benar-benar jauh ? Kami seperti hilang ditelan hutan, ngak tahu kapan sampainya ini. Mage sama Tiwi udah ngak mau ngomong, saya juga ikutan gelisah. Mungkin karena sudah Hopeless dan capek, saya dan Ilham ngomong sembarangan , ngelawak tapi cuma kita saja yang ketawa, si Rasul yang di depan jadi leader juga ikutan meramaikan suasana dengan nganyi lagu dangdut. Kami menyuruh Icca dan Rasul mengecek jalur di depan, sekitar 1 jam lebih baru kita keluar dari hutan. Kita masih hidup, bersyukur :')
| main game di tab sama anak pemilik rumah |
Sebentar lagi petang, kami semuanya pegal-pegal,kabut ada dimana-mana jalurnya ngak kelihatan, perut mage daritadi sakit, saya dan Tiwi menyilahkan Rasul, Icca, dan Ilham untuk duluan ke dusun karena mereka harus mengambil motor dirumah warga. Kami bertiga jalan dibelakang sambil mengawasi Mage yang sudah sangat kelelahan. Sampai di dusun Karangan, sudah gelap, hujan tiba-tiba turun deras sekali. Pemilik rumah satu-satunya di dekat situ memanggil kami berteduh dirumahnya, awalnya kami menolak karena bersikeras untuk melanjutkan pulang ke Pasui. Tapi hujan makin deras, akhirnya kami mmutuskan untuk istirahat malam ini di rumah itu, kami juga takut kalau memaksakan balik takutnya jalanan jadi sangat licin dan biasanya jalanan longsor.
Esok pagi, kami pamitan sama tuan rumah dan kembali ke posko.






0 komentar:
Posting Komentar