Saya masih setengah percaya sekarang sudah ada 3 generasi baru di kampus yang memanggil saya "Kak Dwi". Serasa tua tapi masih muda. hahhaa.... Saya masih sama saja, tukang tidur di kelas, deadliners, kerja tugas apa adanya, pulang kampus kalau adzan magrib, dan tidak ketinggalan aktivitas keorganisasian yang makin hari makin bikin kalut.
Dua tahun saya di cecoki makna "Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu, atau mahasiswa dengan IPK (Indeks Pulang kampung) tinggi". Saya mulai langkah awal jadi panitia di beberapa kegiatan Himpunan, BEM, masuk komunitas, kemudian jadi pengurus HIMPUNAN dan BIRO, ikut serta jadi volunteer dieberbagai kegiatan luar kampus, dan magang di sebuah media sederhana.
Kata orang, buat apa jadi mahasiswa jika tidak merasakan dinamika berorganisasi ? lulus sebelum 4 Tahun dengan IPK Cum laude, cerdas tak butuh organisasi karena bisa mengacaukan. haha... ya benar! organisasi selalu mengacaukan rencana masa depan yang indah. Masa depan ? hari ini adalah masa depan dari kemarin, besok adalah masa depan dari hari ini, lusa adalah masa depan dari besok, dan seterusnya. Masa depan masih di pandang sempit kebanyakan orang. Kadang kita menguras banyak tenaga, pikiran, materil untuk demi menjadi orang sesungguhnya di 5 tahun yang akan datang. Tapi kita tak memikirkan rencana kita untuk esok hari.
Kembali ke organisasi. Tidak mudah menjadi pemimpin yang diidam-idamkan, setelah beberapa jabatan saya emban, tiga tahun ini belum maksimal untuk saya berhenti berorganisasi dan fokus untuk memulai mengutui proposal dan kawanannya. Tapi orang tua setiap menjelang adzan Magrib selalu menasehati untuk tidak terlalu jauh dari tujuan awal, dan mereka tidak bosannya mencoba memantraiku. Saya juga tak mau jadi anak yang kundang. Orang tua ku memang tak pernah mengecap dunia kuliah tapi mereka begitu adil bagi anak-anaknya. Kuliah, Harus! walau saya harus hidup di kamar 3x3 setiap harinya dan jarang pulang ke rumah, orang tua tetap meridohi. The power of belief.
Kadang kalau masalah tiba-tiba datang bertubi-tubi saya sering memikirkan kenapa saya tak memilih jalan mudah seperti teman-temanku lainnya. Toh hidup mereka happy tanpa memikirkan hal yang complicated tentang organisasi. ngak mau ambil pusing, mending kuliah aja yang bener. Tapi ini bukan takdirku tapi ini jalan yang kupilih dari awal. Organisasi banyak mengajarkan saya tentang pengorbanan. Bukan main, begitu banyak yang harus saya korbankan untuk mencapai ke titik ini. Mulai dari IPK yang tiba-tiba anjlok di semester 5, komunikasi dengan teman kelas, teman lama, dan keluarga jadi berkurang, tenaga dan pikiran terkuras hingga untuk mengerjakan tugas terkadang energi tidak tersedia lagi, materil ? ah jangan ditanya lagi haha...
Bahkan saya pernah melewatkan ujian hanya karena ingin menempa ilmu belajar mengolah redaksi bersama salah seorang Pemimpin redaksi majalah wanita di Indonesia, dan sesuai dengan usaha akan berbanding lurus dengan hasil. Saya harus bertanggung jawab terhadap semua perbuatan blusukan ku ini. ya, konsekuensinya yah memperbaiki segalanya. :)
Saya sering menyesal tapi tidak benar-benar menyesal akan segala pengorbanan ini. Saya belajar untuk menuai hasilnya di kemudian hari, saya belajar untuk menanggung segala kesusahan sekarang ini, memikul kepedihan, bertanggungjawab atas segala keputusan yang kuambil, karena saya MASIH MUDA.
Dulu saya masih mempertahankan ego bahwa mahasiswa berorganisasilah yang paling bagus. Tapi kini saya mulai banting stir. Mahasiswa yang dari maba hingga menjadi sarjana yang kerjanya hanya kampus-kos-kampung bukan sosok mahasiswa yang buruk. Karena itu pilihan. semua orang punya pilihan masing-masing untuk menjalani hidup. haha belajar bijak. Dan saya banyak menerima pelajaran hidup dari mereka. Bahwa, menjadi konstan bukanlah sebuah ketidak sanggupan, kemasa bodohan, melainkan sebuah kebahagiaan.
Jadi, jangan pernah understimate satu sama lain. Karena kita tidak tahu perjalana hidup kita beberapa tahun kedepan.
31 oktober 2015.




0 komentar:
Posting Komentar