Jumat, 16 Desember 2016

#1 My First Summit : 3478 Masl of MT Latimojong, Enrekang regency.


Menjadi mahasiswa jurusan biologi mengharuskan saya untuk bisa survive dimanapun. Tidak sedikit yang dilalui mahasiswa jurusan Biologi tidak hanya terampil praktikum di laboratorium tapi kami juga terampil menjelajah alam,contohnya melakukan praktikum lapang di pulau,gunung, hutan dan pantai. Pengalaman-pengalaman inilah yang memberiku nyali untuk menemukan harta karun yang dititipkan Allah kepada kita, manusia. Awalnya dari sebuah niat, ya ketika mendengar bahwa penempatan KKN UNM di kabupaten Enrekang,yang pertama terbersit dalam hati ku adalah akhirnya jalan ku untuk menemukan harta karun itu dimudahkan.Terlebih ketika mengetahui lokasi penempatan KKN ku adalah di desa pasui, desa yang satu kecamatan dengan desa Latimojong. Puncak gunung Latimojong, I'm Coming !!! Dulu saya selalu mau punya foto dengan latar awan seperti anak-anak MAPALA tapi saya tidak mau terikat dalam organisasi MAPALA manapun, berbagai ajakan mendaki datang dari MAPALA jurusan Biologi UNM,dari senior-senior, teman-teman tapi sebelumnya saya tidak pernah ikut.Saat itu mungkin saya masih meragukan diri saya bisa sampai di puncak, apalagi saya pernah dengar cerita orang hilang saat mendaki, badai yang kadang muncul di pos tertentu membuat banyak pendaki hipotermia, tidak tahan dingin, saya sangat meragukan kekuatan fisikku. Tapi berbeda ketika saya sudah berada di desa Pasui.Kondisi geografis desa ini menempa ku setiap hari,boleh dikatakan jalanan disini menjadi medan latihan saya sebelum menemukan harta karun yang ku impikan. Terlebih lagi saya sering diajak teman-teman, siswa-siswa saya di SMA Negeri 1 Pasui refreshing di bukit-bukit sekitar desa yang terkenal dengan nama Resting.

Memasuki bulan ketiga KKN minus 2 minggu, hari penarikan semakin dekat tapi planning mendaki di puncak Rante Mario belum jelas sama sekali, saya pesimis misi saya tidak akan terwujud hingga saya meninggalkan tempat ini. Cuaca disana pun tidak bisa ditebak,setiap sore hari sering hujan, tentunya hujan bisa menyulitkan pendaki karena jalur akan menjadi becek dan licin. Namun, sebuah keajaiban muncul. Saya mengira teman saya, Ilham dan Rasul cuma bercanda akan mendaki di hari senin, padahal kami baru saja selesai melaksanakan program kerja wilayah yang lumayan menguras tenaga,jiwa,pikiran dan raga.Tapi saya juga tidak bermimpi ketika Ilham mengatakan ajakannya kepada saya dan Tiwi. "Ayok deh mendaki besok" kira-kira begitu ajakan ILham yang datangnya tiba-tiba.Saya pikir gila yah mau mendaki tanpa persiapan sama sekali. Waktu itu jujur niatnya 50:50,50 pengen ikut 50 nya lagi rasa khawatir. Senin pagi Ilham kembali menanyakan ke saya, tapi saya ragu karena saya harus masuk mengajar hari rabu untuk memberikan ulangan harian ke siswa saya, tapi saya juga berfikir bahwa ini adalah kesempatan terakhir,kapan lagi ? Begitu pula dengan Tiwi punya problem yang sama dengan saya.Hingga sore hari Ilham dan rasul menuju Baraka untuk membeli spiritus,saya mulai gelisah,aduh bagaimana ini bisa jadi kalau saya tidak ikut saya akan merasa menyesal nantinya. Saya kembali mengajak bicara Tiwi,ia juga merasa demikian akhirnya kami memutuskan untuk ikut mendaki. Segera ku hubungi orang tua saya untuk meminta izin,Alhamdulillah mereka mengizinkan. Saya berfikir akan sepi jika cuma kami berempat yang melalukan perjalanan hebat ini, saya teringat Mage teman posko yang juga punya misi yang sama dengan saya,tidak butuh waktu yang lama saya mendatangi Mage dan mengajaknya ikut serta, dan dia jawab mau.

Ilham dan Rasul akhirnya tiba di posko,kami menyatakan keikut sertaan kami, tapi kendala lainnya alat belum lengkap dan kami butuh satu orang cowok lagi untuk menggenapi kami. Kami mengajak Icca, juga teman posko, dia juga setuju walau awalnya dia enggan ikut. Saat itu gerimis, kami sangat bersemangat mencari pinjaman alat mendaki kesana-kemari,hingga magrib kami sudah selesai packing, rencananya kami akan berangkat ke desa Latimojong setelah shalat Isha. Kondisi posko saat itu sangat ramai, teman-teman yang tidak ikut mendoakan dan mensupport kami, ibu-bapak posko juga turut memberikan wejangan-wejangan kepada kami. siwa-siswa yang kala itu berada di posko ku tanyai satu-satu tentang pengalaman mereka sampai kepuncak Rante Mario.

Setelah shalat Isha, cuaca cukup bagus tapi sore tadi habis gerimis perkiraan jalanan menuju desa Latimojong akan sedikit berat. Benar dugaan kami, becek dimana-mana,jalan licin ,gelap dan sepi. Selama perjalan saya diam dan mengucap doa dalam hati.Hingga tiba di posko KKN desa Latimojong kami disambut hangat oleh rekan-rekan disana, tak lama sekelompok pendaki tiba di posko dan ternyata mereka orang yang sangat ku kenal. Fuad,Kak Rais,Kak Tasrik,dan Kak Mail, tidak menyangka saya akan bertemu mereka disana. Kondisi mereka kala itu bisa dibilang tidak baik, mereka memeriksa perlengkapan kami dan membantu kami packing ulang. Mereka juga turut memberi tahu aturan mendaki,apa yang harus dan tidak harus dilakukan. Malam itu perjalan kita berhenti sejenak disini.Kami beristirahat agar siap menghadapi perjalanan mengasyikkan esok hari.
Dusun Karangan, Desa Latimojong
Mage dan Ilham menuju dusun Karangan

Sebelum perjalan ke Pos 1

Kesokan harinya kami melakukan perjalanan menuju dusun terakhir yaitu dusun Karangan.Kami sudah meminja izin warga setempat,melakukan registrasi dan memarkir motor kami beristirahat sejenak di dekat sugai kecil.Ketika kami akan memulai perjalanan kami baru tersadar bahwa amunisi kami,coki-coki ternyata kelupaan di posko latimojong dan sangat tidak mungkin kami akan kembali mengingat jaraknya yang sangat jauh dan ada mobil mogok di tengah jalan pas pembelokan tajam. Saya akhirnya dibonceng oleh salah seorang pemuda disana untuk mencari amunisi di penjual sekitar dusun itu, tidak ada satupun yang menjual coki-coki guysss...jadinya saya hanya beli milo berbungkus-bungkus daripada nantinya kami akan merasa lebih cepat lelah kalau tidak ada amunisi ini.

Istirahat sejenak di Pos 1

Kondisi Pos 1

Kami semua berdoa agar Allah melindungi kami selama perjalanan ini,kami meminta pemuda tadi mengantar kami beberapa meter karena jalurnya agak rumit kami takut tersesat. Semua Carrier dibawa oleh ketiga cowok,kami bertiga cuma kebagian tas-tas ringan dan kecil yang kami pakai secara bergantian. Ternyata tantangan pertama kami sebelum sampai di pos 1 adalah melewati lereng-lereng bukit yang banyak ditumbuhi tanaman kopi,memang jalanannya belum terjal tapi cukup membuat kami ngos-ngosan. Kami belum masuk dibagian perut pegunungan tapi rasanya benar-benar deg-degan. Beberapa kali kami berhenti untuk istirahat sebelum sampai di pos 1.Di pos 1 benar-benar gersang guys,kayaknya habis kebakaran, pos 1 gundul.Kami tersenyum bahagia setidaknya satu pos telah tertaklukkan, dan semuanya aman-aman saja. Kami memandangi pemandangan yang luar biasa indah di atas situ,kami melihat desa latimojong dan desa potokullin,MasyaAllah indahnya lukisan ALLAH tak terkalahkan oleh lukisan buatan manusia manapun. 

#Bersambung

3 komentar:

  1. edd, duip saya deg-degan bacai... baru na kasi menggantungkii...

    BalasHapus
  2. Edd Dwi na kasi Ganting ka
    Gue tuh nggak bisa di giniin 😟😟😟

    BalasHapus
  3. Keren, generasi literasi... more, more.

    BalasHapus