Sebulan lebih berlalu, saya tidak menikmati kehangatan kumpul bersama keluarga, bantu ibu memasak didapur, sharing pengalaman bersama bapak di malam hari, bertengkar-rindu dengan kakak, dan bercanda gurau, membantu mengerjakan pekerjaan rumah adik kecilku, Agus.
Hari ini saya hendak melancong ke pasar ternama di kalangan mahasiswa, pasar yang hanya mulai riuh di malam hari dan senyap di pagi-siang-sore hari. Rencana ini telah ku ancang-ancang sejak dua hari lalu, baru kali ini saya belanja di pasar tanpa ditemani oleh ibu, aku rindu. Kala itu matahari baru saja menenggelamkan diri dibalik cakrawala. Saya menikmati deruh angin petang di depan kampus ditemani sekotak susu coklat ultra dan sebungkus cookies. Lamat-lamat ku perhatikan mobil-motor hilir mudik bercumbu dengan jalan aspal panas, begitu ramai hingga membuatku ngeri untuk melangkahkan barang selangkah kakiku diantaranya. Ah kubiarkan adzan magrib berkumandang dahulu biar ku pergi dengan tenang, kata orang tua, tidak baik berkendara saat adzan magrib berkumadang.
Hingga jalanan itu sedikit melegang, saya menggapai tempat biasa mahasiswa menunggu mobil angkutan kota. Kudapati angkot yang akan mengantarku ke tempat tujuan, ada lima penumpang didalamnya, masih dengan mengunyah sepotong cookies dan melegahkan dahaga, saya duduk manis tepat di depan salah seorang ibu dan anak laki-lakinya. Anak laki-laki kecil itu menatap lugu diriku, saya kembali melegahkan dahaga, kuperhatikan anak itu dan berhenti sejenak mengunyah. Ku pikir anak ini juga pengen ngunyah, kuberikanlah sebungkus cookies itu tapi isinya hanya tersisa sepotong. Kuberikan kepada adik itu, dia hanya terdiam dan sesekali memalingkan wajahnya ke ibunya yang sedang asik menonton ramainya jalan raya. Sepertinya adik itu ingin meminta persetujuan dari ibunya, mungkin orangtuanya telah mengajarkan bagaimana menyikapi orang asing yang bermotif memberikan makanan enak kepada anak kecil kemudian menculik anak itu. Tapi saya tidak akan sepertu itu adik, ujarku dalam hati sambil tersenyum geli. Saya menyapa ibunya "Ibu saya beri kue ini ke anak ibu yah", ku ulurkan tangan kanan yang memegang bungkusan cookies lalu ibu itu mengambilnya dan memberikan kepada anaknya. Adik itu tidak mengekspresikan kegembiraan di wajahnya, hanya tatapan tajam berisyarat terimakasih kakak :) saya berusaha menjawab isyaratnya dengan senyuman.
Kupalingkan wajahku ke jendela, angin bertiup sayu mengundang ku untuk sleeping beauty di dalam angkot haha... untungnya saya tidak lagi kelelahan sekali sehingga godaan itu bisa ku tangkis dengan mantap. Di garis cakrawala bumi makassar, semburat sinar senja masih menghangati, indah sekali hingga mengharu birukan pandanganku.
Angkot berlaju normal, semburat itu menghilang, ku pandangi adik itu dan sejak itu ku teringat kembali pada adik kecilku dirumah, Agus. Betapa rindunya diriku ingin bermain dengannya, membantunya mengerjakan pekerjaan rumah, mengajarkan hal-hal baik kepadanya. Dia adikku yang lahir 8 tahun yang lalu, dimana saya hampir saja menjadi anak bungsu dari dua bersaudara. Dia adik paling kubanggakan, dia cerdas sejak dia duduk di bangku sekolah tak pernah dia tidak memperoleh juara kelas, dan juga dia selalu menjadi juara mewarnai. Dia adikku yang tidak mau berbicara denganku lewat telepon disetiap malam kala ibu-bapak meneleponku menanyakan kabarku hari itu. Adikku yang bulan agustus lalu berusia 8 tahun dan sekarang duduk di kelas 2 SD. Agus Triansyah.Ar, semoga kamu menjadi anak yang penurut oleh ibu-bapak yah dik :')
Lama ku merenungi kerinduanku, saya menanyakan nama dan usia adik itu. Namanya saya lupa , yah lagi-lagi saya payah menghafal nama orang. Adik itu menikmati setiap gigitan cookies yang saya berikan, hingga mobil angkot ini berhenti, dia dan ibunya telah sampai di tempat tujuan. Hal yang paling membuatku gemas adalah ketika ibunya sedang membayar biaya jasa sopir angkot, adik itu tidak hentinya menatapku dan ku balas dengan senyuman dan sapaan dadah...byebye...
Terimakasih adik, berkatmu kerinduan dengan adikku sedikit tertutupi.




0 komentar:
Posting Komentar