Rabu, 11 Juni 2014

Juni-ku hari ini dan 20 tahun silam..

Diawal bulan juni orang-orang berbondong menuliskan harapan terbaik untuk hidupnya sebulan kedepan. "welcome june, be my month yaa" media sosial dihujani kalimat mirip-mirip kalimat ini. Saya hanya menatap kaku layar ajaib yang sedari ku pegangi dengan kuat takut terjatuh diatas wajahku yang masih sedikit kaku akibat kebanyakan tidur.

Ahhh Juni akhirnya engkau tiba juga..... mungkin ku tak menyambutmu dengan cara yang seperti kebanyakan orang lakukan, saya hanya menyimpulkan senyuman termanis ku di pagi yang cerah itu, berharap yang sama dengan status manusia-manusia sosial lain, bahkan saya berharap kehujanan rejeki dibulan ini hihi... tapi dibulan ini saya ingin mengenang kembali perjuangan-perjuangan ibuku menanggung susah senangnya membawaku kesana-kemari yang masih terbungkus placenta, makan dengan sari-sari makanan yang dihantarkan melalui tali pusar, menendang-nendang perut buncit ibuku meronta ingin segera melihat dunia yang tidak kekal ini. Juni, ibu dan ayahku berharap cemas kala ini bulan ke-9 saya menumpangi perut ibuku, membuat ibuku kesusahan bergerak dan beristirahat, berkembang didalam sana diawali dengan wujud telur (yolk), menjadi morula-blastula-gastrula-embryo, ibuku melalui setiap tri semester sampai akhirnya berada di bulan ini. Mungkin saja dokter ahli kandungan menduga-duga tanggal dimana aku akan pertama kali berteriak menangis, menghirup udara pertama ku di bumi ini, merasakan atmosfer bumi, gravitasi, suara-suara aneh dari makhluk-makhluk bergerak maupun yang tidak. 

Orang tua ku sudah mengalami ini sebelumnya, ketika kakak laki-laki ku, Irfan yang tiga tahun sebelumnya mengalami hal yang sama denganku saat itu. Jika kala itu ayah sudah memiliki alat perekam seperti handycam mungkin saat ini saya hanya perlu memutar setiap detik-detik ibu mempertaruhkan nyawanya untukku bisa menikmati dunianya, dan ibu tak perlu lagi memaksakan dirinya untuk makan makanan lebih dari porsinya. Seringkali Ayah dan Ibu menceritakan masa dimana saya masih menjadi manusia kecil yang hanya bisa tidur, minum asi, buang air besar-kecil. 

Mereka membandingkan semua perilaku saya dengan kedua saudara ku, kakakku yang semasa dia batita-balita hobi merewel minta ini-itu, sering kali menangis sebelum akan tidur. Saya yang anak kedua hingga diberi nama depan Dwi yang semua orang bisa tebak urutan lahirku dalam keluarga hanya dengan nama itu, Ibu antusias menceritakan saya yang begitu tenang kala menjadi bayi perempuan tercantik dikeluarga ini hihi, katanya saya paling jarang menangis, tidak rewel seperti kakakku, hobi tidur itulah mungkin kenapa mata saya menjadi se-sipit sekarang ini dan bulu mata saya merunduk seperti padi hehe, saya senang mendengarkan semasa kecil dulu tak begitu banyak menyusahkan mereka menjadi anak yang penurut dan manis LOL*... Dan adikku, Agus Triansyah, yang juga memperoleh gelar urutan anak ke-tiga yang pada tahun ini akan berumur 8 tahun, dia yang semasa kecil dulu tak begitu menyusahkan, saya sering bergantian dengan ibu mengasuh adikku yang kala itu menggemaskan minta dicubit berkali-kali, usia kami terpaut sangat jauh, di usiaku 12 tahun dia baru saja masuk dalam daftar keluarga besar ini, pelengkap kebahagiaan orang tuaku, jika tak ada dia mungkin saat ini ibu dan ayahku kesepian dirumah hanya menonton tivi, makan berdua karena aku sudah tak tiap hari berada dirumah dan kakakku yang punya jadwal sama sibuknya denganku.

Ibu dan Ayah sering menelpon ku di ba'da magrib, menanyakan kabarku, bertanya masalah apa yang sedang ku jalani, bercerita mengenai apa yang terjadi di rumah hari ini. Saya selalu merasa akan menangis ketika ditanyai kapan pulang nak, kenapa minggu ini tidak ke rumah... maaf  saya tak sanggup harus menempuh jarak ini dengan meggunakan angkutan umum berjam-jam kadang membuatku sakit kepala luar biasa, saya juga tak ingin menyusahkan ayah menjemputku ketika dia keletihan sepulang kantor, cukup ayah dan ibu menelpon ku setiap harinya seperti ini segala rindu yang meradang menjadi sirna, saya juga tak ingin hanya berada dirumah beberapa jam saja karena itu membuatku tidak puas dan menciptakan kesedihan lebih, jarak tak begitu jauh namun saya tak sering menginjakkan kaki di istana kita. 

Maafkan aku ibu yang tak lagi menemanimu dipagi dan sore hari memotong sayuran, memasak lauk-pauk, mencucikan semua piring-gelas-sendok dkk bekas pakai, juga pakaian kotor, menyapu semua ruang-ruang di rumah kita, bercengkrama luwes dipagi hari sambil meminum secangkir teh dengan suguhan kue tradisional, menonton berita dipagi hari ketika ayah hendak ke kantor, dan malam hari ketika ayah kembali kerumah. Ayah yang begitu keras mendidikku sejak usiaku masih tak bisa dengan mudah dilepaskan seperti ini, ayah yang tiap bangun tidur dipagi hari menarik-narik batang hidungku berharap suatu saat hidung yang pesek ini menjadi agak mancung. Ibu sembilan bulan yang engkau rasakan kala itu belum bisa kutebus hingga saat ini, apalagi hari-hari setelah sembulan bulan itu hingga kini saya masih saja menjadi anak kecil mu yang setiap minggu menelpon hanya meminta uang tambahan, mengeluh ini-itu. 

Saya selalu ingin membahagiakan kalian dengan apa yang kulakukan, mungkin tidak saat ini, beberapa tahun kedepan semoga Allah masih memberikan umur yang panjang dan kesehatan untuk kita akan ku baktikan seluruh jiwa ragaku untuk membahagiakan kalian, menjadikan kalian orang-tua yang tidak menyesal melahirkan anak perempuan satu-satunya yang kalian miliki di bumi ini, tidak menyesal menghambur-hamburkan uang kalian hanya demi kenyamanan yang luar biasa ku dapatkan. Seperti yang ayah tuliskan di pesan singkat dua tahun lalu ketika dia beranjak 40 tahun, "Ayah sama ibu selalu mendoakan kalian semoga sehat wal-afiat dan diberikan umur panjang, dan kesuksesan"  Amiin yakinlah Allah tidak pernah tidur dan Dia Maha Mendengar. 

Saya sudah pernah mengecewakan mereka dengan tidak menjadi seorang dokter, ketika akan menempuh hidup baru di perguruan tinggi tapi mereka tetap saja tersenyum bahagia mengetahui saya lulus di jurusan yang tidak kalah dengan dokter dan kelak akan menajdi tenaga pendidik. Tuhan, Terimakasih untuk menjadikan kami keluarga yang utuh, berkecukupan, dan bahagia, ijinkan aku untuk membalas segala pengorbanan kedua orang tuaku sebentar lagi, Ijinkan aku memberikan apa yang mereka inginkan kelak, menjadi anak yang benar-benar saleh seperti harapannya di dekapan pertama mereka kala ku berlumuran darah 20 tahun lalu. 

0 komentar:

Posting Komentar